Sebaran Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae Pocock 1929) Di Kawasan Taman Nasional Tesso Nilo
Sudiro, Irawan
Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae, Pocock 1929) merupakan
salah satu top predator yang statusnya saat ini adalah satwa langka yang kritis
berdasarkan IUCN. Ancaman yang terjadi terhadap populasi harimau semakin
meningkat sehingga jumlah populasi kian berkurang, dan dikawatirkan harimau
sumatera akan mengalami kepunahan. Sebagian besar teknik pengamatan populasi
harimau pada saat ini menekankan pada perjumpaan tidak langsung yakni melalui
jejak tapak kaki, kotoran, cakaran, dan kaisan. Saat ini telah dikembangkan
metode pengamatan menggunakan kamera jebak. Penerapan metode tersebut pada
satwa yang memiliki perilaku menghindar dari manusia seperti halnya harimau
sumatera. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sebaran spasial
harimau sumatera dan menduga populasi harimau sumatera di Taman Nasional
Tesso Nilo.
Metode penelitian yang digunakan ialah metode survey okupansi dan
camera jebakan, dalam penelitian peralatan yang digunakan ialah: global
positioning system (GPS), kompas, field guide mamalia, camera trap Bushnell,
memory card 4gb, kamera digital, alat tulis, buku panduan pemantauan harimau
sumatera, pita meter, penggaris, battere Alkaline, Tambang Plasik, Program
Software presence 2.12.14 dan program software Arc GIS Versi 10.
Rata-rata perjumpaan jejak harimau dalam 37 ulangan sebanyak 0,86
perjumpaan tiap ulangan. Hasil analisis presence menunjukkan bahwa model
konstan/model tanpa kovariat merupakan model terbaik dengan nilai AIC
terkecil. Namun karena ukuran petak contoh kecil maka dipertimbangkan untuk
melakukan perhitungan AICc sebelum memilih model terbaik untuk analisis
presence. Ukuran contoh atau banyaknya petak survey =9, dan banyaknya
parameter model =2, maka n/ = 9/2 = 4,5 atau 40, berarti kemungkinan sebagai
model terbaik adalah 75%. Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae)
menghuni sekitar 89% dari areal survei (hutan alam tersisa). Deteksi harimau
sumatera tidak sempurna dengan probabilitas harimau terdeteksi di setiap ulangan
sekitar 50%.Satwa mangsa potensial untuk harimau sumatera yang ditemukan
adalah Rusa sambar (Rusa unicolor), Tapir (Tapirus indicus), Kijang (Muntiacus
muntjak) dan Babi hutan (Sus scrofa). Tingkat gangguan habitat harimau sumatera
di lokasi survei meliputi perambahan, pembalakan liar, perburuan dan
pemungutan HHBK., Hasil survei dengan menggunakan Camera Trap dipeoreh
satu gambar individu harimau sumatera maka kepadatan absolut harimau
sumatera adalah 1.57 harimau/100km2
dengan tingkat perjumpan harimau 0.158
harimau/100hari, selain harimau sumatera Camera trap juga menangkap 21 jenis
satwa mangsa dari 16 jenis kelas mamalia, 4 jenis kelas aves, dan 1 jenis kelas
reptil yang terdiri dari 14 family
salah satu top predator yang statusnya saat ini adalah satwa langka yang kritis
berdasarkan IUCN. Ancaman yang terjadi terhadap populasi harimau semakin
meningkat sehingga jumlah populasi kian berkurang, dan dikawatirkan harimau
sumatera akan mengalami kepunahan. Sebagian besar teknik pengamatan populasi
harimau pada saat ini menekankan pada perjumpaan tidak langsung yakni melalui
jejak tapak kaki, kotoran, cakaran, dan kaisan. Saat ini telah dikembangkan
metode pengamatan menggunakan kamera jebak. Penerapan metode tersebut pada
satwa yang memiliki perilaku menghindar dari manusia seperti halnya harimau
sumatera. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sebaran spasial
harimau sumatera dan menduga populasi harimau sumatera di Taman Nasional
Tesso Nilo.
Metode penelitian yang digunakan ialah metode survey okupansi dan
camera jebakan, dalam penelitian peralatan yang digunakan ialah: global
positioning system (GPS), kompas, field guide mamalia, camera trap Bushnell,
memory card 4gb, kamera digital, alat tulis, buku panduan pemantauan harimau
sumatera, pita meter, penggaris, battere Alkaline, Tambang Plasik, Program
Software presence 2.12.14 dan program software Arc GIS Versi 10.
Rata-rata perjumpaan jejak harimau dalam 37 ulangan sebanyak 0,86
perjumpaan tiap ulangan. Hasil analisis presence menunjukkan bahwa model
konstan/model tanpa kovariat merupakan model terbaik dengan nilai AIC
terkecil. Namun karena ukuran petak contoh kecil maka dipertimbangkan untuk
melakukan perhitungan AICc sebelum memilih model terbaik untuk analisis
presence. Ukuran contoh atau banyaknya petak survey =9, dan banyaknya
parameter model =2, maka n/ = 9/2 = 4,5 atau 40, berarti kemungkinan sebagai
model terbaik adalah 75%. Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae)
menghuni sekitar 89% dari areal survei (hutan alam tersisa). Deteksi harimau
sumatera tidak sempurna dengan probabilitas harimau terdeteksi di setiap ulangan
sekitar 50%.Satwa mangsa potensial untuk harimau sumatera yang ditemukan
adalah Rusa sambar (Rusa unicolor), Tapir (Tapirus indicus), Kijang (Muntiacus
muntjak) dan Babi hutan (Sus scrofa). Tingkat gangguan habitat harimau sumatera
di lokasi survei meliputi perambahan, pembalakan liar, perburuan dan
pemungutan HHBK., Hasil survei dengan menggunakan Camera Trap dipeoreh
satu gambar individu harimau sumatera maka kepadatan absolut harimau
sumatera adalah 1.57 harimau/100km2
dengan tingkat perjumpan harimau 0.158
harimau/100hari, selain harimau sumatera Camera trap juga menangkap 21 jenis
satwa mangsa dari 16 jenis kelas mamalia, 4 jenis kelas aves, dan 1 jenis kelas
reptil yang terdiri dari 14 family
Informasi Repositori
- Jenis
- Thesis
Detail Information
- Tahun
- 2024
- Bahasa
- id
- Last Updated
- 2024-12-09T02:01:41Z
Subjects / Keywords
Akses Dokumen
Hak Cipta & Lisensi
Konten ini bersumber dari Repositori Institusi Kemendikdasmen.
Hak cipta dimiliki oleh institusi pencipta karya. Dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International (CC BY-NC 4.0).
Metadata di-harvest melalui protokol OAI-PMH sesuai SK Sekjen Kemendikbudristek No. 18/M/2022.
Karya Umum
Filsafat
Agama
Ilmu-ilmu Sosial
Bahasa
Ilmu-ilmu Murni
Ilmu-ilmu Terapan
Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
Kesusastraan
Geografi dan Sejarah